KEGIATAN BERMUTU BATANG TIMUR

Jumat, 04 Februari 2011

Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa

Oleh: Adi Nugraha, M.Pd Disadur dari makalah
Drs. H. Erman Suherman, M.Pd. Staf pengajar FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung
Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa, yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif, afektif, dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Dengan belajar aktif, melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran, akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud, guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar, sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa  dengan berbagai variasinya
sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Kata Kunci: model belajar, model pembelajaran, potensi siswa, kompetensi, life skill, suasana belajar
A.    Pendahuluan
Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK), yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP), telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran di sekolah, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Guru masih dominan dan siswa resisten, guru masih menjadi pemain dan siswa penonton, guru aktif dan siswa pasif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Padahal, tuntutan KBK, pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain, jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. 
Demikian pula, pada pihak siswa, karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima  dan tidak biasa memberi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim, boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual, mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan memang itu kewajiban utama, apalagi untuk  membeli buku pembelajaran yang inovatif. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran, tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas, mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan, sehingga misi KBK dapat terwujud. Dengan paradigma yang berubah, mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif.
Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru, yang saya hormati dan saya banggakan, untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan, model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif, dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, materi, fasilitas, dan guru itu sendiri.
B.    Kompetensi Siswa
Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain, karena ia telah memiliki komptensi, kecakapan hidup. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami.
Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah), kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan  argumentasi, presentasi, prilaku). Istilah psikologi kontemporer, kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik, terutama kognitif) disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik  yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian, sosialisasi, dan pengendalian diri    disebut dengan soft skill, yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua.
C.    Model-model Belajar
Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan, bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini, guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal, dan tidak sebaliknya.
Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar ini, diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.
Ada berbagai model belajar yang akan dibahas, yaitu:
1.      Peta Pikiran
Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu hal  berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Sebagai contoh, kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri, maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk, supir bajay, kocak, sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Ema, Ucup, Hindun, dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya, pejabatnya, dosen-dosen dan staf administrasi, dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan  peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi, meskipun dengan makna yang tidak berbeda.
Dalam bidang studi keahlian anda, misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika, Akuntansi, Agama, atau yang lainnya. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map).
Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Yang produknya berupa peta konsep. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif  yang merupakan peta konsep, sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas, kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran, mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Mengingat hal itu, sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep, guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif.
Selanjutnya, Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal, setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri, misalnya berangan-angan, menonton, mengobrol atau bercanda tanpa makna. Bagaimana dengan anda?.
2.      Kecerdasan Ganda
Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan  bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain, jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif, misal kenakalan atau lamunan, inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon).
Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Kondisi ini akan bisa dinetralisir  dengan relaksasi melalui penciptaan suasana  kondusif, misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan.
Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, ide, abstrak, dan simbolik. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional, kesadaran diri, spasial, musik, dan kreativitas. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%, siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.
Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga, yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Sebagai orang beragama, kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini, bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir, ada do’a sebagai permintaan dan harapan, dan ibadah lainnya. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini.
Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill, yaitu Spacial-visual , Linguistic-verbal, Interpersonal-communication, Musical-rithmic, natural, Body-kinestic, Intrapersonal-reflective, Logic-thinking-reasoning.
 3.      Metakognitif
Secara harfiah, metakognitif  bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir, berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya,  yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi.
Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel meta kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan regulasi.
Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7, yaitu: refleksi kognitif, strategi, prediksi, koneksi, pertanyaan, bantuan, dan aplikasi. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif, yaitu: kesadaran, monitoring, dan regulasi.
Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.
4.      Komunikasi
Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswa dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya, ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.
Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992), untuk kita simak dan renungkan,  bahwa seorang anak ayang masih polos-natural, setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Akibatnya sungguh mengejutkan, anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan, keberanian, suka tantangan, ingin mencoba, ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang  lebih dominant dari orang sekelilingnya, ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun, sehingga dia tumbuh menjadi penakut, pemalu, ragu-ragu, menghindar, membiarkan, dan cemas. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah, belajar menjadi  beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. Makin lama ia makin dewasa, pribadinya berpola negative, seperti pesimis, m\udah menyerah, dikendalikan keadaan , prasangka, pembenaran, menimpakan kesalahan, dan sibuk dengan alasan. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif, yaitu optimis, mengendalikan keadaan, ada kebebasan memilih, punya alternative, partisipatidf, dan mau memperbaiki diri.
Sebagai guru, tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis, katakana “saya ….” bukan katanya, jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan, tumbuhkan citra positif, bersikap mengajak dan bukan memerintah, dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok panutan). Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa, yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran.

5.      Kebermaknaan Belajar
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).
Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi,presentasi). Mencoba-pek (menyelidiki, meng-identifikasi, menduga, menyimpulkan, menemukan), dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan).  Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengan kegiatan mengajar.
Selanjutnya, Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan-komunikasi mencapai 70 %, da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. Dari uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukuop dengan mendengar dan melihat, tepai harus dengan hands-on, minds-on, konstruksivis, dan daily life (kontekstual).
6.      Konstruksivisme
Dalam paradigma pembelajaran, guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis, berkonjektur, menggeneralisasi, dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi.
Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. Mungkin saja kemasannya tidak akurat, siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi eksalahan, di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar, ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran.
Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal, Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism), yaitu: konsistensi internal, keterpaduan, kekonvergenan, refeleksi-eksplanasi, kontinuitas historical, simbolisasi, koherensi, tindak lanjut, justifikasi, dan sintaks (SOP).
7.      Prinsip Belajar Aktif
Ada dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.
Dari indikator belajar aktif, sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas, maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek, belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang, seperti kemampuan sosialisasi, empati dan pengendalian diri.     Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok,diskusi, presentasi, tanya-jawab, sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri.
Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan, mengerjakan), structuralistic (terstrutur, sitematik, aksionmatik), empiristic (pngelaman induktif-deduktif), dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional, kontekstual-trealistik, konstruksivis-inkuiri, melakukan-mengkomunikasikan, dan inklusif life skill.
D.   Model-model Pembelajaran
Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya  belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.
1.      Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep,  menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siawa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
2.      Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
3.      Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).
Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).
4.      Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
5.      Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi.  Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
6.      Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.
7.      Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan  melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
8.      Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna  secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adlaha menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat reson siswa, bimbingan dan pengarahan,  membuat kesimpulan.
9.      Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan  dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi
10.  Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.
11.  Reciprocal Learning
Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.
Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.
12.  SAVI
Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic  yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.
13.  TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok  sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.
Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:
a.      Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan
b.      Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.
c.      Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa  dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar)  superior, very good, good, medium.
d.      Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
e.      Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
14.     VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.
15.  AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.


16.  TAI  (Team Assisted Individualy)
Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi.
Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok  secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.
 17.  STAD (Student Teams Achievement Division)
STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.
18.  NHT (Numbered Head Together)
NHT  adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.
19.  Jigsaw
Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan, iformasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
20.  TPS (Think Pairs Share)
Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan  kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat  skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.
21.  GI (Group Investigation)
Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.
22.  MEA (Means-Ends Analysis)
Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub  masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi
23.  CPS (Creative Problem Solving)
Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.
24.  TTW (Think Talk Write)
Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.
25.  TS-TS (Two Stay – Two Stray)
Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal,  kerja kelompok, laporan kelompok.
26.  CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.
27.  SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh
28.  SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.
29.  MID (Meaningful Instructionnal Design)
Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in  dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep
30.  KUASAI
Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.
31.  CRI (Certainly of Response Index)
CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa  tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan  yang telah dimilikinya.  Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.
32.  DLPS (Double Loop Problem Solving)
DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa.  Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.
Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.
33.  DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan  berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup.
34.  CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang,  guru memberikan wacana  bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.
35.  IOC (Inside Outside Circle)
IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan  yang berbeda  dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah:  Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam,  siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya
36.              Tari Bambu
Model  pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.
37.  Artikulasi
Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.
38.  Debate
Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.
39.  Role Playing
Sintak dari model pembelajaran ini adalah:  guru menyiapkan scenario pembelajaran,  menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut,  pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.
40.  Talking Stick
Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.
41.  Snowball Throwing
Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok,  pemanggilan ketua dan diberi tugas  membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi
42.  Student Facilitator and Explaining
Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.
43.  Course Review Horay
Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa  yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
44.  Demostration
Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen.  Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
45.  Explicit Instruction
Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah:  sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
46.  Scramble
Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.
47.  Pair Checks
Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran,  penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
48.  Make-A Match
Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya,  setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
49.  Mind Mapping
Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn, presentasi hasuil diskusi kelompok, siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.
50.  Examples Non Examples
Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi.
51.  Picture and Picture
Sajian informasi kompetensi,  sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
52.  Cooperative Script
Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana  materi bahan ajar, siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
53.  LAPS-Heuristik
Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.
54.  Improve
Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latian dan bertanya, balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi.
55.  Generatif
Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan ide-konsep awal, tantangan dan restruturisasi sajiankonsep, aplikasi, ranguman, evaluasi, dan refleksi
56.  Circuit Learning
Pembelajaran ini  adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan  situasi belajar kondusif dan focus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus, Tanya jawab dan refleksi
57.  Complette Sentence
Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi, presentasi.
58.  Concept Sentence
Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci, presentasi.
59.  Time Token
Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah  kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.
60.  Take and Give
Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa - bahan belajar - dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi
61.  Superitem
Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simpel ke kompleks, berupa opemecahan masalah. Sintaksnya adalah  ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan sal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.
62.  Hibrid
Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusi-workshop, virtual workshop menggunakan computer-internet.
63.  Treffinger
Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.
64.  Kumon
Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.
65.  Quantum
Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.
Rumus quantum fisika asdalah E = mc2, dengan E = energi yang diartikan sukses, m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi), c = communication, optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal.
E.    Penutup
Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi, sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan.
Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi, menciptakan inovasi, agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. Begitu pulal dalam pembelajaran, penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan, karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak  bisa dipisahkan. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas, tidak lagi takut dalam berpartisipasi, tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban, melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan, dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan.
Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan  model belajar yang dilakukan siswa, komunikasi positif yang efektif, dan model pembelajaran yang inovatif. Semoga.



Pembelajaran Tatap Muka, Tugas Terstruktur, dan Tugas Mandiri Tidak Terstruktur

Belajar dan Pembelajaran mencakup Proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan;
Seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik; Dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi proses belajar dan membuat berhasil guna dan Perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya
Berdasarkan Standar Isi Beban belajar diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan system :
-Tatap Muka (TM)
- Penugasan Terstruktur (PT)
- Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur (KMTT)
Prinsip Pembelajaran Berbasis Kompetensi
1.Berpusat pada peserta didik;
2.Pembelajaran terpadu;
3.Memahami keunikan peserta didik;
4.Menerapkan prinsip pembelajaran tuntas;
5.Pemecahan masalah;
6. Multi strategi; Guru sebagai fasilitator, motivator, dan nara sumber
Penjelasan
Pembelajaran Tatap Muka (TM) :
Kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi langsung antara peserta didik dan pendidik
Penugasan Terstruktur (PT) :
Kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi untuk peserta didik, dirancang guru untuk mencapai kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan ditentukan oleh guru. Dalam kegiatan ini tidak terjadi interaksi langsung antara guru dengan peserta didik
Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur (KMTT) :
Kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi untuk peserta didik, dirancang guru untuk mencapai kompetensi . Waktu penyelesaian penugasan ditentukan oleh peserta didik dan tidak terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik
Sumber: Bintek KTSP 2009
http://bandono.web.id/2009/02/28/pembelajaran-tatap-muka-tugas-terstruktur-dan- tugas-mandiri-tidak-terstruktur.php
A. Jenis Hewan dan Tumbuhan yang Mendekati Kepunahan
Setiap makhluk hidup mempunyai ciri-ciri tubuh yang sangat menarik jika kita perhatikan, karena alat-alat tubuh baik luar atau organ tubuh bagian dalam disesuaikan dengan tempat hidupnya. Lingkungan yang ditempati makhluk hidup untuk melakukan kegiatan disebuthabitat. Untuk dapat melangsungkan hidupnya, setiap makhluk hidup memerlukan habitat yang sesuai. Perubahan lingkungan dapat menyebabkan perubahan habitat sehingga tidak cocok/sesuai lagi dengan makhluk hidupnya. Perubahan lingkungan dapat terjadi secara alamiah. Misalnya gunung meletus, musim, pergantian siang dan malam, perubahan lingkungan, dan akibat perbuatan manusia, misalnya perburuan hewan, penebangan hutan, pembangunan jalan, dan bendungan. Karena perubahan lingkungan ini maka terjadi perubahan jumlah individu yang menempati suatu daerah tertentu. Maka sekarang dikenal adanya istilah hewan dan tumbuhan langka atau mendekati kepunahan. Hewan dan tumbuhan langka dan mendekati kepunahan biasanya dilindungi oleh pemerintah dalam suatu tempat perlindungan karena jumlahnya di alam bebas sedikit.

1. Hewan yang Mendekati Kepunahan
a. Badak Bercula
Badak merupakan hewan paling langka dan paling terancam punah. Badak termasuk hewan mamalia yang mengalami perkembangbiakan yang lama, dalam satu tahun hanya dapat melahirkan anak 1-2 individu. Perkembangbiakannya pun dapat berlangsung jika kondisi lingkungannya stabil. Badak bercula satu ditemukan di daerah Ujung Kulon, Bantensedangkan Badak bercula dua habitat aslinya di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. Populasi Badak kian hari semakin menurun karena banyaknya pemburuan liar untuk mengambil culanya.

b. Cendrawasih
Burung Cendrawasih terkenal karena keindahan bulunya yang berwarna-warni. Burung ini hidup menyendiri di lembah-lembah pegunungan hutan tropis dan biasa bersarang di atas kanopi pohon yang tinggi besar. Cendrawasih betina biasanya bertelur dua butir, mengerami dan membesarkan anaknya sendiri. Bulu burung betina dan anak-anaknya berwarna pucat dan mereka berkumpul dalam suatu kawanan agar tidak diganggu musuh. Burung cendrawasih merupakan ciri khas dariPapua. Dengan maraknya penangkapan, penebangan hutan, perkebunan sawit, dan pencarian kayu gaharu hutan di pegunungan dan pedalaman Papua menyebabkan perubahan lingkungan tempat hidup cendrawasih sehingga jumlahnya kian menurun dari tahun ketahun, selain itu penurunan populasi Cendrawasih dikarenakan sifat reproduksi hewan tersebut sangat lamban.

c. Komodo
Komodo termasuk reptil yang bentuknya menyerupai biawak. Penyebaran hewan ini tidak luas hanya terdapat di Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah komodo di alam bebas semakin sedikit karena jumlah makanannya yang sedikit yaitu daging dan bangkai hewan ternak, oleh karena itu oleh Pemerintah menetapkan komodo sebagai hewan yang dilindungi.

d. Jalak Bali
Jalak bali termasuk burung yang memiliki bulu yang indah, karena keindahannya burung ini banyak ditangkap oleh pemburu liar untuk dijual atau dipelihara sendiri. Sehingga sekarang jumlah burung ini di alam bebas semakin berkurang. Penurunan jumlah jalak bali disebabkan karena habitat tempat burung ini berlindung dan berkembang biak mulai menyempit seiring dengan semakin meningkatnya penebangan hutan.

2. Tumbuhan yang Mendekati Kepunahan
a. Rafflesia Arnoldi
Bunga Rafflesia hidup di Taman Nasional Bengkulu, mempunyai ukuran dengan diameter bunga yang hampir mencapai 1 meter. Bunga ini terkenal dengan sebutan bunga bangkai karena mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga digunakan untuk menarik lalat yang hinggap dan membantu penyerbukan. Raflesia Arnoldi merupakan tumbuhan parasit yang memerlukan inang untuk hidupnya. Saat ini kondisi habitat Raflesia Arnoldi sangat memprihatinkan sehingga jumlahnya menurun drastis dari tahun ke tahun. Menyusutnya habitat bunga tersebut di antaranya disebabkan kegiatan manusia seperti pembukaan wilayah hutan baik untuk kegiatan pertambangan, pertanian, maupun permukiman.

b. Pohon Cendana
Pohon cendana termasuk tumbuhan berkayu yang dapat menghasilkan bau harum pada batang dan akarnya. Karena keharumannya pohon ini menjadi sangat berharga. Kayu cendana dipakai sebagai bahan dasar parfum dan sabun. Sifat kayunya yang halus digunakan untuk membuat hiasan. Pohon cendana merupakan tumbuhan kebanggaan dan ciri khas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pohon cendana sekarang jumlahnya semakin berkurang sehingga digolongkan tumbuhan langka. Kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan seluruh kayu cendana dimiliki pemerintah baik yang tumbuh alami atau di taman warga menyebabkan masyarakat tidak terdorong untuk melestarikannya. Namun sekarang masyarakat dipersilakan menanam sebanyak-banyaknya dan hasilnya sepenuhnya milik mereka.

B. Usaha yang Dilakukan untuk Mencegah Kepunahan Hewan dan Tumbuhan
Agar tidak terjadi kepunahan maka pemerintah beserta instansi terkait melakukan usaha untuk mencegah terjadinya kepunahan dengan beberapa cara, antara lain: 1. Menetapkan suaka margasatwa sebagai tempat untuk melindungi hewan tertentu terutama yang sudah langka. 2. Membuat cagar alam sebagai tempat perlindungan dan pelestarian hewan, tumbuhan, tanah dan air. 3. Membuat hutan lindung sebagai tempat untuk melindungi air/daerah resapan air karena di hutan dengan tumbuhan yang menutupinya jika terjadi hujan maka air akan tertahan dan diserap tanah 4. Inseminasi Buatan adalah perkembangbiakan pada hewan dengan cara menyuntikkan sperma dari hewan jantan pada hewan betina. Inseminasi buatan ini biasa dilakukan pada hewan mamalia terutama yang hampir punah karena jumlahnya di alam bebas yang semakin sedikit. Tidak semua orang dapat melakukan inseminasi buatan, biasanya dilakukan oleh dokter hewan di suatu lembaga pelestarian, misalnya kebun binatang. 5. Kultur Jaringan Kultur jaringan adalah perkembangbiakan tumbuhan dengan cara memperbanyak sel tumbuh (jaringan) menjadi tumbuhan baru. Media tempat menumbuhkan sel tumbuh (jaringan) dikenal dengan media agar-agar yang telah ditambahkan beberapa unsur hara yang diperlukan tumbuhan. 6. Berpartisipasi dalam pelestarian makhluk hidup Pelestarian makhluk hidup bukan tanggung jawab pemerintah saja namun kita sebagai manusia dan makhluk Tuhan harus ikut menjaga kelestarian makhluk hidup dan lingkungannya. Apa saja yang kita dapat lakukan untuk melestarikan lingkungan dan makhluk hidup? Kita mulai dari lingkungan terkecil, misalnya rumah dan tempat tinggal kita dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Pemeliharaan hewan tertentu oleh pribadi misalnya memelihara orang utan, burung yang termasuk langka sebaiknya tidak dilakukan melainkan kita serahkan kepada lembaga yang bertugas menjaga kelestarian lingkungan misalnya kebun binatang. Memperbanyak jenis hewan tertentu yang biasa kita gunakan sebagai sumber makanan misalnya dengan berternak ayam, sapi. Kesadaran manusia akan pentingnya keseimbangan alam diharapkan sekali dalam usaha pelestarian makhluk hidup. Pemburuan liar yang dilakukan untuk menangkap hewan harus dihindari dan didukung dengan cara tidak membeli hewan langka dan bagian bagian hewan tersebut. Dengan demikian usaha penjualan hewan langka menjadi terhenti.
:=:
Create your own WAP site (Wapka.Mobi)


Ketika Program Bermutu… Telah Tiba Di Pertigaan Pendakian

AbidinS.Pd.
Armada Program Bemutu Mapel B.Indonesia Pokja 6
Pernah mendaki gunung? Oh …
indahnya alam negeriku . Betapa besar alam
ciptaanMU di atas ketinggian. Puas
bukan, melihat indahnya panorama dari sebuah
ketinggian gunung? Pasti Tuhan Maha Besar
atas semua ciptaanNya.
Judul di atas terkesan sedikit bombastis, memang. Begitulah MGMP Program Bermutu yang bertujuan begitu mulia itu kini hampir tiba pada setengah perjalanan pendakian itu. Gimana tingkat antusiasme guru peserta tiap kegiatan pertemuan. Tambah membara? Nah……!
Tujuan MGMP Program Bermutu memang untuk meningkatkan kompetensi
professional guru secara kolaboratif melalui kajian pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan menuju terciptanya komunitas belajar. Atau lebih singkatnya untuk meningkatkan prestasi peserta didik melalui proses pembelajaran yang berkualitas. Bahkan model belajarnya pun adanya keterpaduan antara PTK, Case Study, Leson Study dengan komponen KTSP lainnya.
Namun, tujuan mulia itu belum cukup untuk mensuport atau memotivasi guru peserta MGMP di setiap pertemuannya.


GURU PEMANDU UJUNG TOMBAK PROGRAM BERMUTU

BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) bertujuan mengupayakan peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Program BERMUTU meliputi 4 komponen pokok, yaitu: 1. Komponen reformasi pendidikan calon guru di Perguruan Tinggi; 2. Komponen Continous Profesional Development di tingkat sekolah; 3. Komponen sistem akunta-bilitas dan insentif peningkatan kinerja dan karier guru; dan 4. Komponen monitoring dan evaluasi kinerja guru. Pada komponen yang ke-2, salah satu kegiatannya adalah pemberdayaan dan peningkatan kinerja guru SD dan SMP di Sanggar KKG dan MGMP yang terdekat.
Sasaran peserta program BERMUTU di KKG/MGMP diutamakan guru yang belum
berkualifikasi S-1. Diharapkan mereka dapat melanjutkan ke LPTK (Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan) di Perguruan Tinggi yang terakreditasi untuk memperoleh gelar sarjana. Pengalaman kesertaan mereka selama mengikuti program BERMUTU dapat dikonversi ke dalam SKS (satuan kredit semester) sekitar 40-60 sks. Penghargaan SKS itu diperoleh dari produk belajar yang dihasilkan dari kegiatan di KKG/MGMP, misalnya: kajian kritis bidang ilmu, studi kasus pembelajaran, laporan lesson study, laporan PTK, dan
hasil lainnya. Karya-karya guru tersebut selanjutnya dinilai oleh LPTK untuk mendapatkan sejumlah SKS yang dapat mengurangi beban belajar atau masa studi di LPTK. Harapannya mereka memiliki kemauan kuat dan mendapat sedikit kemudahan dalam melanjutkan studi S-1 di LPTK. Kepemilikan kualifikasi S-1 itu memungkinkan mereka memiliki kesempatan mengikuti sertifikasi guru.
Artikel ini ditulis bertujuan untuk ikut mensosialisasikan Program BERMUTU kepada pembaca awam, khususnya kegiatan yang berhubungan dengan pemberdayaan dan peningkatan kinerja guru di Sanggar KKG/MGMP. Selain itu, tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya peran Guru Pemandu dalam keberhasilan pelaksanaan Program BERMUTU di Sanggar KKG/MGMP. Harapan penulis, para guru dan pembaca Buletin ini mengetahui sekilas mengenai pengertian, tujuan, kegiatan, dan sasaran Program BERMUTU. Guru Pemandu sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan Program BERMUTU di sanggar KKG/MGMP dapat memahami peran dan tugasnya sehingga memberikan andil bermakna dalam keberhasilan Program BERMUTU.
Tim Pengembang Program BERMUTU
BERMUTU merupakan program nasional yang melibatkan banyak pihak dan memerlukan dana besar. Pihak yang terlibat adalah Dirjen PMPTK (Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Dirjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi), Balitbang Diknas (Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional), Menpan (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara), BKN (Badan Kepegawaian Nasional), P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan), LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan), dan Pemerintah Kabupaten/Kota mitra BERMUTU. Dana yang diperlukan untuk mendukung Program BERMUTU ini sebesar Rp19.510.000.000,00. Dana itu diperoleh dari Pinjaman Bank Dunia, Hibah Pemerintah Belanda, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Tim pengembang yang terlibat secara teknis operasional dalam Program BERMUTU secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. NCT (National Core Team=Tim Inti Nasional)
Tim ini digawangi oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan (Direktorat Bindiklat), Ditjen PMPTK, Depdiknas bekerja sama dengan Ditjen Dikti. Tim inti nasional inilah yang merancang program secara nasional dan menyiapkan Modul atau BBM (Bahan Belajar Mandiri) serta perangkat lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan Program BERMUTU. NCT ini pula yang membentuk PCT dan melakukan sosialisasi program BERMUTU.
2. PCT (Provincial Core Team=Tim Inti Provinsi)
Tim ini diprakarsai oleh Widyaiswara LPMP, Dosen LPTK setempat, dan Instruktur Dinas Pendidikan Provinsi. Tim Inti Provinsi ini bertugas melakukan sosialisasi Program BERMUTU ke daerah, membentuk DCT dan melatih Guru Pemandu KKG/MGMP di kabupaten/kota mitra BERMUTU, dan melakukan Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan Program BERMUTU di Sanggar KKG/MGMP.
3. DCT (District Core Team = Tim Inti Daerah)
Tim ini beranggotakan unsur Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Pengawas Sekolah, dan Kepala Sekolah. Tim Inti Daerah bertugas menyiapkan pembentukan Sanggar KKG/MGMP sesuai ketentuan yang berlaku, mengajukan proposal untuk memperoleh DBL (Dana Bantuan Langsung), menetapkan peserta dan Guru Pemandu Program BERMUTU, dan menyusun laporan kegiatan serta mempertanggungjawabkan dananya.
4. GP (Guru Pemandu)
Guru Pemandu merupakan ujung tombak pelaksanaan program BERMUTU di Sanggar KKG/MGMP. Guru Pemandu adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan kewenangan mengajar, mendidik, dan melatih peserta Program BERMUTU di Sanggar KKG/MGMP. Dalam pelaksanaannya, Guru Pemandu ini dapat direkrut dari instruktur, widyaiswara, dosen, pengawas, atau narasumber yang dipandang mampu.
Peran Guru Pemandu
Berdasarkan peran dan tugas tim pengembang di atas, dapat dilihat bahwa peran Guru Pemandu sangat menentukan dalam keberhasilan Program BERMUTU. Mereka dapat diibaratkan sebagai ujung tombak yang amat menentukan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan Program BERMUTU di Sanggar KKG/MGMP. Bila ujung tombak itu hanya sekadar ‘pucuk daun’, sudah barang pasti tidak dapat berperan sebagaimana mestinya. Namun, apabila ujung tombak itu dari ‘besi baja’ yang terasah, dapatlah diharapkan kemampuannya dalam menjalankan peran dan fungsinya.
Untuk menjamin Guru Pemandu BERMUTU yang berkualitas, upaya yang dapat dilakukan adalah: penetapan kriteria sebagai syarat perekrutannya, pelatihan berkelanjutan yang sistematis, dan pemberian kompensasi yang memadai. Pihak yang tepat untuk mewujudkan hal itu adalah LPMP bekerja sama dengan LPTK dan Dinas Pendidikan. Di masa mendatang, pembinaan terhadap Guru Pemandu perlu dipersiapkan secara serius untuk menjamin mutu pelaksanaan Program BERMUTU di Sanggar KKG/MGMP.
Kriteria Guru Pemandu BERMUTU –seperti yang ditentukan oleh LPMP Jawa Tengah bersama DCT 10 Kabupaten Mitra BERMUTU—sebagai berikut ini.

1. Kualifikasi pendidikan minimal S-1,
2. Berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil),
3. Berprofesi Guru / Kepsek / Pengawas / Widyaiswara/Dosen yang masih aktif,
4. Minimal golongan IIIc,
5. Pernah melakukan PTK (Penelitian Tindakan Kelas),
6. Menguasai dasar-dasar TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi),
7. Usia maksimal 50 tahun, dan
8. Memiliki komitmen tinggi terhadap program BERMUTU.

Pelatihan terhadap Guru Pemandu juga telah dilakukan di LPMP Jawa Tengah selama 3 hari pada bulan Juni dan Juli 2009 di LPMP Jawa Tengah. Pelatihan yang diberikan meliputi: gambaran umum BERMUTU, Case Study, Lesson Study, PTK, TIK, Tematik, Model Pembelajaran Inovatif, Andragogi, KTSP, pengembangan instrumen penilaian, dan kajian bidang akademik . Semestinya, ada kegiatan lanjutan untuk melihat kinerja dan kesulitan yang dihadapi Guru Pemandu setelah melaksanakan tugasnya di Sanggar KKG/MGMP. Pelatihan bagi mereka sebaiknya menggunakan model in-1—on—in-2--on. Artinya, sebelum melaksanakan tugas mereka dilatih di LPMP pada in-1), selanjutnya melaksanakan tugas di Sanggar KKG/MGMP. Setelah selesai 6-8 pertemuan, mereka kembali dilatih atau ‘diasah’ ketajaman ujung tombaknya dalam in-2. Usai pelatihan kedua itu, mereka kembali menjalankan tugasnya di Sanggar KKG/MGMP. Hanya dengan pelatihan yang baik, sistematis, dan berkelanjutan kita dapat berharap Guru Pemandu memiliki kompetensi yang memadai untuk dapat memberikan kontribusi bermakna dalam keberhasilan Program BERMUTU.
Hal yang tidak boleh dilupakan dalam upaya meningkatkan kualitas Guru Pemandu adalah kompensasi yang wajar dan memadai atas jerih payah mereka. Honorarium untuk mereka harus pantas dan transparan. Selama ini, belum ada ketentuan yang jelas yang mengatur tentang hak dan kewajiban Guru Pemandu. Sebaiknya juga, pasca melaksanakan tugas Guru Pemandu dapat diberi sertifikat atau surat keterangan dari LPMP atau Dinas Pendidikan.
Kewajiban Guru pemandu sesungguh-nya tidaklah ringan. Mereka paling tidak dituntut dapat secara baik dalam merencanakan pembelajaran. Kegiatan perencanaan itu meliputi: membuat silabus dan satuan acara pembelajaran, menyiapkan materi, serta media pembelajaran yang diperlukan dalam setiap pertemuan. Selanjutnya, mengajar yaitu mentransfer ilmu pengetahuan, menyajikan dan memahamkan materi pada Bahan Belajar Mandiri kepada peserta. Tugas mendidik juga harus diperankan oleh Guru Pemandu yang difokuskan pada meningkatkan semangat belajar, minat baca, minat menulis, dan minat meneliti pada diri peserta. Guru Pemandu juga dituntut dapat melatih peserta untuk dapat menguasai keterampilan menulis case study, menyelenggarakan Lesson Study, menyusun laporan Penelitian Tindakan Kelas, dan pemanfaatan komputer serta internet. Akhirnya, Guru Pemandu harus melaporkan kegiatan yang telah dilakukan di Sanggar KKG/MGMP kepada DCT dan LPMP sebagai bentuk pertanggungjawaban tugasnya.
Sukses Program BERMUTU adalah harapan kita semua. Untuk mewujudkan hal itu, menuntut komitmen kuat pada semua pihak yang terlibat di dalamnya. Tim Inti Nasiona, Tim Inti Provinsi, Tim Inti Daerah, dan Guru Pemandu harus bekerja sungguh-sungguh sesuai perannya masing-masing. Namun, mengingat tugas Guru Pemandu yang berada di garda depan selayaknya dapat menjadi ujung tombak yang tajam terasah agar dapat memberikan andil bermakna dalam keberhasilan Program BERMUTU.

Jakarta, 2009


Jumat, 28 Januari 2011

Kreativitas Pembelajaran Drama Dapat Membangun Kemandirian Karakter Positif

Pendahuluan
Sastra Drama sebagai bagian dari perwujudan seni sastra yang melibatkan keseluruhan totalitas dalam kemampuan berekspresi perlu dilatihkan pada siswa. Kegiatan penyajian drama di dunia pendidikan informal meskipun tertuang dalam pemberdayaan silabus ditiap tingkatnya, tetapi kurang mendapat porsi yang memadai demi tercapainya tujuan pembelajaran ini. Kompleksitas bidang drama yang mencakup beragam seni membuat pembelajaran drama sering diabaikan. Kesenian merupakan hasil seni ( hasil karya manusia yang halus dan indah). Ada pun media yang digunakan antara lain gerak, suara, bunyi, laku, dan sebagainya. Rahmanto (1997:7.8) menjelaskan bahwa dalam arti luas, drama adalah seni pertunjukan yang menyajikan alur cerita. Di dalamnya termasuk seni pedalangan ( wayang kulit, wayang golek, dsb. ), seni film ( sinetron, telenovela, dsb. ), drama tradisional (ketoprak, lenong, dsb.) dan juga drama modern.
Unsur- unsur pementasan drama dalam arti luas ini antara lain sebagai berikut:
1. pelaku/pemain
2. lakon
3. pentas
4. sutradara
5. penonton
6. unsur lainnya:
a. pakaian/ kostum
b. rias
c. dekorasi
d. cahaya
e. suara ( musik dan bunyi efek)

Dalam pengertian yang sempit , drama adalah teks yang bersifat dialog dan isinya membentangkan sebuah alur ( Luxemburg, 1984: 158). Unsur- unsur teks drama antara lain alur, tokoh , dan dialog. Drama pada umumnya bertujuan untuk dipentaskan. Karena dimaksudkan untuk dipentaskan , drama memiliki beberapa keunikan .
Menurut sejarah, perkembangan drama di Indonesia cukuplah semarak. Misalnya pada zaman jepang , drama bermunculan digunakan sebagai alat propaganda Jepang. Kemudian muncul drama keliling. Pada saat pergolakan setelah merdeka, kegiatan ini terhenti. Akan tetapi di daerah-daerah tertentu teater tradisional masih tetap hidup, sperti Ludruk di Surabaya, Lenong di Jakarta, wayang orang dan kethoprak di jawa Tengah, randai di Sumatra Barat, dan lain-lain.
Dapat ditelusuri bahwa drama dilingkungan masyarakat kita sudah cukup dikenal menjadi tontonan. Bertolak dari perkembangan tersebut, kita bisa ikut menggalakkan kembali jenis kesenian ini bersama-sama siswa sebagai anak didik kita melalui kegiatan ekstrakurikuler, acara perpisahan sekolah, perkemahan pelajar, pentas HUT RI, dll. Untuk keperluan tersebut, karena rumit dan uniknya anatomi drama , maka diharapkan guru sebagai pendidik diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami naskah drama ( cerita).
Manfaat Pembelajaran Sastra Drama
Seperti puisi, drama diciptakan untuk di dengar, bahkaan lebih dari puisi , drama memerlukan koordinasi pikiran dan perasaan yang sepenuh-penuhnya dari para pembacanya. Di samping untuk didengar, drama juga utnuk dilihat. Jadi para pembacanya harus menjadi aktor, perancang pentas , dan lain-ain. Hal itu dilakukan ketika membacakan kata-kata tertulis menjadi drama yang hidup dengan pelaku-pelaku yang berbicara serta setting ( latar) dan adegan yang diharapkan oleh simbul-simbul tertulis itu.
Pengajaran sastra , termasuk drama dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan cipta dan karsa. Cipta ialah pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru, merupakan angan-angan yang kreatif. Rasa adalah tanggapan indra terhadap rangsangan saraf ( manis, harum) dingin . Rasa juga dapat berarti tanggapan hati melalui indra ( sedih, gembira, dsb) .
Melalui berbagai kegiatan mempelajari drama, diharapkan dalam diri siswa terkembangkan berbagai kecakapan . Kecakapan ini antara lain yang bersifat indra (alat untuk merasa, mencium, mendengar, melihat merasa, dan merasakan sesuatu secara naluri), penalaran ( pemikiran atau cara berpikir yang logis), afektif ( berkenan dengan masyarakat ), dan relegius ( ketaatan pada agama, kesolehan).
Menurut Loren E. Taylor ( dalam Rahmanto, 1997: 7.26) pembelajaran sastra drama bagi siswa antara lain: memperluas wawasan budaya, membantu pembentukan suara, mengembangkan keserasian gerakan, mengembangkan apresiasi terhadap keindahan, mengembangkan kesedapan sikap , mengembangkan daya imajinasi, menyediakan rekreasi sehat, mengembangkan apresiasi sastra, memberikan kesempatan untuk ekspresi pribadi, mengembangkan cita rasa , mengembangkan rasa percaya diri, mengembangkan rasa percaya pribadi, mengembangkan kontrol pribadi, dan memperkuat daya ingatan.
Selanjutnya juga dikemukakan bahwa kegiatan berdrama juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan dalam menerima kritik, mengembangkan kepribadian , memperkaya pengalaman, menstimulasi otak, membantu pencapaian tujuan sekolah, mengembangkan pengertian terhadap perihal emosional, melatih perihal yang fundamental dalam seni drama, memberikan kemungkinan profesi, menambah kemampuan dalam menafsirkan kehidupan, mengajarkan sikap-sikap baik, memperbaiki kebiasaan buruk, mengembangkan kecepatan berpikir, mengembangkan sikap jujur, mengembangkan kesediaan mengorbankan diri, mengembangkan kecerdasan, mengembangkan inisiatif, mengembangkan karakter, dan melatih menjadi penonton yang dewasa.
Henry Guntur Tarigan ( dalam Rahmanto1977: 7.28) berpendapat bahwa manfaat drama, khususnya yang dimainkan anak-anak , adalah sebagai berikut: memupuk kerjasama yang baik, sebagai pergaulan sosial, memberi kesempatan kepada anak untuk melahirkan daya kreasinya, mengembangkan emosi yang sehat , menghilangkan sifat pemalu dan penggugup, mengembangkan apresiasi dan sikap yang baik, serta menghargai pendapat dan pikiran orang lain, menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri , serta dapat mengurangi kejahatan dan kenakalan anak-anak.

Anatomi drama
Menurut Haryanto ( dalam Rahmanto 1997: 9.2) Unsur –unsur yang membangun karya sastra drama dari dalam sebagai yang menghidupkan drama meliputi tokoh, alur, latar, dan tema.

A. Tokoh
Pada umumnya tokoh dalam drama berupa orang . Jika berupa binatang, tumbuhan, atau bahkan benda mati , sikap dan tingkah lakunya tetap pula menggambarkan kehidupan manusia. Tokoh dalam sastra drama bukanlah sekadar boneka yang mati. Tokoh tersbut diharapkan berkesan hidup, yaitu memiliki ciri-ciri kebadanan, ciri-ciri kejiwaan, dan cirri-ciri kemasyarakatan.
Yang dimaksud ciri-ciri kebadanan misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan kondisi wajah. Yang dimaksud ciri-ciri kejiwaan misalnya mentalitas, moral, temperamen, kecerdasan, dan kepandaian dalam bidang tertentu. Sedangkan yang dimaksudkan ciri-ciri kemasyarakatan misalnya status sosial, pekerjaan, atau perannya dalam masyarakat, pendidikan , ideologi, kegemaran, dan kewargaanegaraan. Dengan memenuhi ciri-ciri itu tokoh akan tampak utuh dan hidup.
Ada berbagai macam tokoh . Berdasarkan peranannya dalam drama terdapat tokoh utama dan tokoh tambahan . Tokoh utama adalah pelaku yang diutamakan dalam suatu drama. Ia mungkin paling banyak muncul atau mungkin paling banyak dibicarakan. Tokoh tambahan adalah pelaku dalam drama yang kemunculannya dalam drama lebih sedikit, tidak begitu dipentingkan kemunculannya.
Berdasarkan fungsi penampilannya terdapat tokoh protagonis , antagonis, dan tritagonis. Protagonis adalah tokoh yang diharapkan berfungsi menarik simpati dan empati pembicara atau penonton. Ia adalah tokoh dalam drama yang memegang pimpinan , tokoh sentral. Antagonis atau tokoh lawan adalah pelaku dalam drama yang berfungsi sebagai penentang utama dari tokoh protagonis. Tritagonis adalah tokoh yang berpihak pada protagonis atau berfungsi sebagai penengah pertentangan tokoh-tokoh.
Penciptaan citra tokoh atau penokohan dalam drama dilakukan dengan berbagai cara . Pengarang mungkin secara langsung mengungkapkan gambaran tentang tokoh mungkin pula melalui cakapan tokoh , penggambaran keadaan tokoh, atau tingkah laku tokoh atau percakapan tokoh lainnya tentang diri si tokoh

B. Alur
Alur disebut juga plot, jalan cerita, susunan atau stuktur naratif. Alur drama adalah rangkaian peristiwa dalam karya sastra drama yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas ( sebab akibat). Dapat juga dikatakan bahwa alur drama adalah jalinan peristiwa dalam karya sastra drama guna memcapai suatu efek.
Karya sastra yang lengkap mengandung cerita ( puisi, prosa maupun drama) , pada umumnya mengandung delapan bagian unsur sebagai berikut : eksposisi, rangsangan, konflik, rumitan, klimaks, krisis, larian, dan, penyelesaian,
Eksposisi atau paparan adalah bagian karya sastra drama yang berisi keterangan mengenai tokoh serta latar. Biasanya eksposisi ini terletak bagian awal karya tersebut. Dalam tahapan ini pengarang memperkenalkan para tokoh, menjelaskan tempat peristiwa, menggambarkan peristiwa yang akan terjadi. Bagian alur ini bertujuan untuk mengantar pembaca atau penonton ke dalam persoalan utama yang menjadi isi cerita drama.
Rangsangan adalah tahapan alur ketika muncul kekuatan, kehendak, kemauan, pandangan yang saling bertentangan dalam drama. Bentuknya berupa peristiwa yang segera terjadi setelah bagian eksposisi terakhir serta memulai timbul konflik , peritiwa ini sering ditimbulkan oleh masuknya seorang tokoh baru atau datangnya suatu berita yang merusakkan keadaan yang semula laras.
Konflik atau tikaian adalah tahapan ketika suasana emosional memanas karena adanya pertentangan dua atau lebih kekuatan. Pertentangan atau konflik tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu : manusia dengan alam, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan dirinya sendiri ( konflik batin), dan manusia dengan penciptanya.
Rumitan atau komplikasi merupakan tahapan ketika suasana semakin panas karena konflik semakin mendekati puncaknya . Gambaran nasib tokoh semakin jelas meskipun belum sepenuhnya terlukiskan.
Klimaks/ titik puncak cerita, bagian ini merupakan tahapan ketika pertentangan yang terjadi mencapai titik optimalya. Peristiwa dalam tahap ini merupakan penggugah nasib tokoh. Bagian ini , terutama dipandang dari segi tanggapan penonton , menimbulkan puncak ketegangan, klimaks merupakan puncak titik balik .
Krisis titik balik adalah bagian alur yang mengawali leraian . Tahap ini ditandai oleh perubahan alur cerita menuju kesudahannya. Karena setiap klimak diikuti oleh krisis , keduannya sering dianggap sama atau disamakan
Leraian adalah bagian struktur alur sesudah klimaks dan krisis , merupakan peristiwa yang menunjukkan perkembangan lakuan kearah selesaian, Dalam tahap ini kadar pertentangan mereda. Ketegangan emosional menyusut suasana panas mulai mendingin menuju kembali ke keadaan semula seperti sebelum terjadi pertentangan.
Penyelesaian merupakan bagian akhir alur drama . dalam tahap ini biasanya rahasia atau kesalahpahaman yang bertalian dengan alur cerita terjelaskan. Ketuntasan final dari segala pertentangan yang terjadi terungkapkan. Terpecahkan nya masalah dihadirkan dalam tahap ini.

C. Latar
Latar disebut juga setting atau landasan tumpu . Istilah ini mengacu pada makna tentang segala keterangan mengenai waktu, ruang, serta suasana peristiwa dalam karya sastra drama. Dalam karya sastra drama biasanya tidak mengemukakan latar dengan deskripsi kata-kata, tetapi dengan penampilan yang didukung oleh seni dekorasi , seni ukis, seni patung, tata cahaya, tata bunyi ( music dan sound effect) . Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas . Hal itu penting untuk menciptakan kesan realitas kepada pembaca atau penonton . latar menciptakan suasana yang seakan-akan nyata ada, yang mempermudah pembaca dalam berimajinasi. Latar juga memungkinkan pembaca atau penonton berperan secara kritis berkenaan dengan pengetahuannya mengenai latar tersebut.
Berkaitan dengan latar ini dikenal adanya latar fisik dan latar spiritual. Latar fisik adalah segala keterangan atau keadaan mengenai lokasi atau tempat tertentu (nama kota, desa, jalan, hotel, kamar) dan berkenaan dengan waktu ( abad, tahun, tanggal, pagi, siang, saat bulan purnama, ketika hujan deras). Dengan demikian ,latar fisik ini terdiri dari latar tempat dan latar waktu.
Latar spriritual adalah segala keterangan atau keadaan mengenai tatacara, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik. Latar spiritual ini pada umumnya dilukiskan kehadirannya bersama dengan latar fisik, bersifat memperkuat kehadiran atar fisik tersebut. Latar sosial ( keterangan atau keadaan yang berkaitan dengan perilaku kehidupan sosial : kebiasaan hidup, tradisi, kepercayaan) termasuk di dalam latar spiritual.
Penyajian Drama
a. Persiapan
Sebelum guru mengajarkandrama pada suatu kelas , ia harus mengadakan dua macam persiapan , yakni memilih bahan yang cocok untuk kelasnya dan menyusun persiapan guna dapat mengajarkan dengan baik. Persiapan awal mengumpulkan naskah . Jika sudah ada beberapa naskah / cerita drama. Guru memilih naskah/ cerita yang sesuai. Cara memilih naskah / cerita tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Apakah cerita / naskah itu sesuai dengan minat siswa;
2. Apakah cerita/ naskah ini membina manusia seutuhnya sesuai dengan minat kemampuan minat siswa;
3. Dapatkah cerita ini merangsang kegiatan siswa;
4. Apakah tingat kesukaran bahasanya sesuai.
Contoh cerita /naskah drama untuk usia siswa SMP

Salah Paham
Karya : kelompok siswa kelas IX B SMP N1 Limpung
( Anggi, Eko, Noviana, Vivin )
Para pelaku:
1. Dini : 15 tahun ( emosi)
2. Rina : 15tahun ( tidak bisa tepati janji)
3. Laras : 15 tahun ( bijaksana)
4. Rara : 15 tahun ( dewasa)

Siang itu Dini, Rina, laras, dan Rara janjian untuk belajar kelompok di rumah Laras , sepulang sekolah.

Laras : ( Menunggu sendiri di pintu gerbang sekolah karena mereka tidak satu kelas)
“ Lama banget sih! Jadi tidak belajar dirumahku?”
Dini : ” Jadi donk? Si Rina sih , ke toilet lama banget?”
Rina : “ Ya… maaf kan khilaf.”
Rara : “ Ke toilet kok khilaf, ada-ada saja lo!”
Laras : “ Udah dak usah ribut ayo kita berangkat!”
Rina : “ ( menghentikan langkah)
Rara : “ Rin, kok berhenti sih? Ayo…!”
Rina : “ Sorry nih, temen-temen bukannya aku tidak mau berangkat ke rumah laras dengan kalian, tapi aku mesti pulang dahulu , soalnya ada urusan penting. Na nti aku ke rumah Laras pukul 14.00, aku janji!”
Dini :” Bener ya Rin, jangan sampai telat. Kalau sampai telat awas lo!”
Rina : ( Rina pun meninggalkan ketiga sahabatnya)
Laras : ( mereka sampai di rumah laras)
“ Ayo masuk, anggap aja kayak rumah sendiri, kalau mau makan atau min um ambil aja di dapur sendiri.”
Rara : “ Ok!!ngomong-omong rumah sepi banget orang tuamu gak ada di rumah ya ?’
Dini : ( sambil mengambil buku pelajaran)
“ Orang tua laras mana pernah ada di rumah ? kan sibuk.”
Rara : ( mencubit tangan Dini)
Laras : “Nggak pa-pa lagi Ra, yang Dini bilang bener kok! Orang tua gue emang si buk tidak pernah ada di rumah, Gue aja gak pernah diperhatiin!”
Dini : ( merasa bersalah)
“ Sorry ya Ras, aku sudah menyinggung perasaanmu! Sebaiknya kita mulai s aja belajar.”
( satu jam setelah berakhir waktu menuggu pukul 14.30 WIB . Belum ada
tanda kedatangan Laras)
Laras : ( mondar-mandir sambil melihat Jam)
“ Mana sih! Rina katanya mau datang pukul 14.00, tapi udah pukul 14.30 be
lum datang . Jadi datang tidak sih?!”
Dini : “ Iya,nih! Bagaimana sih Rina katanya tidak akan terlambat datang. Maunya apa sih! Tuh anak.”
Rara : ( berusaha manenangkan sahabatnya)
“ sabar donk, sebentar lagi juga datang! Tuh Rina datang.”
Rina : “ Sorry aku telat, soalnya…”
Dini : ( memotong pembicaran Dini)
: “ Sorry-sorry, kalau tidak niat datang , tidak usah datang! Nyusahin kita saja
! buang- buang waktuku saja.”
Rina : “ Kok jadi kamu yang marah, sekarang maunya kamu apa!”
Rara sama Laras oke-oke saja aku telat.”
Dini : ( sambil meletakkan tangan dipinggang)
“ Oh… jadi kamu nantang aku ya,Ayo, siapa takut!”
Rara : “ Udah donk , jangan ribut, kalian ini kan sahabat , begitu saja diributkan ,
seperti anak kecil saja.”
Laras : “ Iya…niih, baikan donk!! Kalau situasinya seperti ini kan menjadi tidak tidak enak. Apa kalian mau persahabatan ini pecah.”
Rara : ( Menatap Dini dan Rina)
“ Din, kamu jangan berbicara kasar seperti itu dengan Rina, siapa saja juga pasti marah.” Dan kamu Rin, kalau sudah berjanji ditepati, jangan membuat kita jadi menunggu.”
Rina : “ Aku minta maaf, teman-teman aku menyesal sudah terlambat. Soalnya
aku harus membantu ibuku yang sedang sakit.”
Dini : “ Iya , Rin. Aku juga minta maaf. Aku menyesal telah marah-marah
denganmu! Kita baikan ya!”
Laras : “ Begini donk dari tadi baikan, suasananya kan tidk panas seperti ini. Kita ha rus berjanji tidak boleh bertengkar lagi , apapun yang terjadi.”

Setelah siswa mengadakan persiapan dan latihan , barulah mereka mengadakan pementasan. Pada pelatihan bermain drama yang akan dipentaskan diperlukan kemampuan teknik bermain drama, antara lain: teknik muncul, teknik memberi isi, teknik pengembangan, teknik klimaks, teknik menonjolkan, tempo irama, mendengar dan menanggapi, dan teknik ucapan.
Siswa minimal dapat merencanakan struktur alur / plot drama yang akan dipentaskan , yang mencakup:
1. Perkenalan/ eksposisi
2. Konfliks ( membina konflik)
3. Klimaks
4. Antiklimaks/peleraian
5. Solusi/penyelaian dan improvisas
Pada akhir sebuah pementasan drama dan sebagai follow up, diperlukan sebuah analisis pementasan. Sutradara perlu memberikan input tentang jalannya pementasan drama. Sutradara dan pengamat yang berkompeten memberikan penilaian, antara lain tentang:
1. Penampilan yang meliputi: kesiapan , kerjasama, dan kostum
2. Ekspresi, mencakup : gerak, mimik, dan pantomimik
3. Kejelasan dialog dan vokal
4. kreativitas

Naskah hasil cipta siswa tersebut di atas menggunakan logat bahasa yang sangat dekat di dunia siswa. Siswa secara langsung sudah dilatih untuk berekplorasi, dalam mencermati kehidupan dengan segala lekuk liku dan problematika. Siswa tidak merasa canggung atau kesulitan untuk mengungkap segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pergaulan, persahabatan sering masih diwarnai adanya suatu pertengkaran ( Rina dan Dini) . Mereka merasa pendapatnya yang paling benar. Rina sebagai tokah protagonis, sedangkan Dini sebagai tokoh antagonis
Para siswa telah berhasil, menampilkan tokoh penggerak dalam drama agar alur cerita menjadi hidup dengan memunculkan suspensi meskipun masih sangat sederhana . Sebuah cerita menjadi hidup jika dalam sebuah kisah yang terjadi terdapat pertentangan tentang suatu kebenaran seperti realita hidup . Kehidupan itu penuh liku , susah senang, bahagia dukacita, kaya miskin , dapat diimplementasikan ke dalam konteks cerita dalam sebuah drama.

Kompetensi Bermain Drama

Menurut Soemanto ( 2006: 15) Sebuah perbuatan atau laku di panggung dapat bernas dan berbobot jika dilandasi alasan. Tanggapan yang muncul dalam diri seseorang menjadi alasan suatu perbuatan. Karena di panggung ada benda , suara dan cahaya yang dapat dilihat, diraba, didengar, dibaui, dan bahkan dicecap ( misalnya makanan atau minuman) , maka rangsangan untuk menciptakan motif atau alasan itu tersedia di panggung .
Pada pementasan drama visualisasi gerak atau karakter tokor agar dapat terlihat natural memerlukan sebuah improvisasi yang dapat menggerakkan pemain terasa hidup pada konteks lakon sesuai peran yang dimainkan. Manfaat dari improvisasi adalah menciptakan persiapan, menampilkan sesuatu dengan mendadak, dan melakukan begitu saja ( 0ffand ). Improvisasi memang perlu dilatihkan pada siswa dengan tujuan untuk melatih rangsangan spontanitas yang diserasikan dengan tuntutan, dan tetap harus dipertanggungjawabkan.
Metode latihan untuk merangsang spontanitas , dalam kaitannya dengan tindakan spontan yang tetap dapat dipertanggungjawabkan , improvisasi memberikan kemungkinan menciptakan akting yang wajar dan tidak dibuat-buat, Latihan-latihan dapat dikerjakan dengan memberikan kesempatan siswa berdiri atau duduk di depan cermin, dan meminta mereka menanggapi bayangan mereka sendiri di cermin itu. Bagaimana mereka menanggapi dengan gerakan ketika mereka diminta menutup mata dan meraba wajahnya sendiri.
Jika latihan improvisasi berhasil, maka siswa akan mampu menciptakan akting wajar tetapi kuat mengesankan. Kemampuan siswa berekspresi secara spontan sesuai dengan peran yang dibawakan, karakter yang diingikan dapat membantu membentuk karakter positif siswa dalam menghadapi segala problematika kehidupan yang membawa pada kedewasaan berpikir dan bernalar pada siswa pada khususnya.
Suara dan cakapan adalah dua hal pokok yang harus digarap karena dapat menentukan suksesnya pementasan. Dialog dalam pementasan berbeda dengan teks naskah tertulis, apa yang sudah diucapkan tidak dapat diulangi . Karena itu vokal harus menarik dan jelas . Dijaga supaya tetap menarik dengan tujuan tetap memikat penonton mengikuti jalan cerita agar menarik dan dipahami oleh penonton.
Biasanya vokal yang mantap juga berhubungan dengan rasa percaya diri pemain. Rasa percaya diri ini tumbuh jika pemain ini yakin dengan apa yang dilakukan. Keyakinan diri ini erat berkait dengan pemahaman dan penghayatan perannya dan penguasaan seluruh jalan kisah drama . Dengan kata lain , dia tidak hanya paham betul adegan dimana ia harus muncul, tetapi juga adegan-adegan yang mengawali dan yang mengikuti walaupun disana ia tidak hadir.
Tubuh dan gerakan juga dapat mendukung maksud, atau suasana hati pemain dalam pementasan drama maka keterampilan ini juga harus dikuasai oleh siswa sebagai pemeran dalam drama. Tubuh sebenarnya juga alat bicara, gerakan tertentu dapat menunjukkan kejemuan, kegembiraan, duka, kejengkelan, dan lain sebagainya. Bahkan, gerakan tertentu menyarankan perwatakannya; tua penggelisah, tidak sabar.
Agar tubuh dan gerakannya tidak hanya bermakna tetapi juga memikat, perlu disadari perlunya irama. Bagaimana seorang gadis yang masuk ke panggung . Berhenti sedetik dan melihat ke kiri dan ke kanan , menghampiri meja, dan mengambil secarik kertas , membaca tulisan pada kertas itu, lantas tersenyum. Dari contoh ini nampak bahwa gerakan tubuh sebenarnya “ frasa” atau bahkan”kalimat”. Irama gerakan itu menegaskan makna dan membuatnya indah dilihat penonton. Oleh karena itu , jika dipanggung disajikan adegan seorang laki-laki mengetik, yang dilakukan bukan asal mengetik. Ketukan ketikan yang menghasilkan bunyi tik-tik-tik;trrr dapat disiapkan sehingga bermakna.


Karakter Positif Siswa dari Drama
Hamalik ( 2009: 164) berpendapat adalah menjadi tanggungjawab guru agar pengajaran yang diberikannya dapat berhasil dengan baik . keberhasilan ini banyak bergantung pada usaha guru membangkitkan motivasi belajar siswa. Pengajaram yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan , dorongan, motif, minat yang ada pada siswa. Pengajaran yang demikian sesuai dengan tuntutan demokrasi pada siswa.
Karakter siswa secara tidak langsung dapat terbentuk dari sebuah proses pembelajaran drama, drama mengungkap semua sisi kehidupan manusia, baik yang positif berupa sifat baik maupun sisi negatif yang berupa sifat buruk. Inti dari bermain drama adalah bisa membentuk tuntutan karakter sesuai dengan peran yang dibawakan , pemain drama juga harus bisa menyampaikan pesan sesuai dengan pengungkapan dialog sesuai dengan tuntutan teks cerita.
Setiap siswa harus dapat membawakan peran sesuai dengan kisah karakter dalam naskah cerita . Dari pemeranan ini siswa dapat membawa satu misi peran dari tokoh cerita. Setiap tokoh cerita memiliki karakter dan keunikan perilaku sendiri sesuai dengan tuntutan cerita. Seperti pada contoh naskah drama berikut:

Arloji
Karya: P. Hariyanto
Kisah ini terjadi di sebuah kamar depan keluarga yang cukup terpandang. Terdapat berbagai perlengkapan yang lazim di kamar tamu semacam itu, namun yang terpenting ialah seperangkat meja kursi tamu . Pada kira-kira pukul 09.00 drama ini terjadi.

Para Pelaku:
1. Jidul : Anak laki-laki berumur 15 tahun, bisu dan tampak bodoh,
namun peringan dan tekun. Ia seorang pembantu rumah
tangga.
2. Pak Pikun : Pembantu rumah tangga ini berumur 40 tahun. Rambutnya
sudah memutih, sok tahu, sok kuasa , dank eras kepala.
3. Ibu : Nyonya rumah ini berusaha kira-kira 42 tahun, keibuan, dan
bijaksana
4. Tritis : gadis berusia 18 tahun ini cenderung tergesa-gesa dalam
memberikan penilaian.
Alur cerita
1. Dengan penuh keriangan , si Jidul tekun membersihkan meja dan kursi- kursi. Kepalanya melenggut-lenggut, pantatnya bergidal-gidul seirama dengan musik ndangdut yang terdengar meriah. Jidul terkejut ketika musik mendadak berhenti.
2. Pak Pikun : ( Muncul langsung menuju ke arah Jidul) Ayo! Mana!
Berikan kembali padaku! Ayo! Mana!
3. Jidul : Ber-ah-uh, sambil memberikan isyarat yang menyatakan
4. ketidaktahuannya.
5. Pak Pikun : Jangan berlagak pilon! Siapa lagi kalau bukan kamu yang
mengambilnya? Ayo, Jidul, kamu sembunyikan di mana, eh?
6. Jidul : Semakin bingung dan takut.
7. Ibu : ( Muncul tergesa-gesa) Eh, ada apa dengan Jidul?
8. Pak Pikun : Maaf, Bu. Ini biar saya urus sendiri! Kamu baru mau ngaku
kalau dipukul, ya? Sini ! ( mau memukul Jidul)
9. Ibu : sabar dulu Pak Pikun! Diperiksa dulu ! ( mendesah sendiri)
Ya, ampun!
10. Tritis : (melihat tangan pak Pikun) Eh, Lihat! Arlojinya kan itu! Di
Pergelangan tanganmu, Pak Pikun Lihat! ( Tertawa Ngakak).
11. Ibu : O, iya! Betul! Dasar Pak Pikun ya pikun! ( Tertawa geli)
12. Pak Pikun : Tertegun memndang pergelangan tangannya yang kanan.
Dilepaskannya si Jidul. Diamat-amatinya arloji itu .
Penggadanya sudah dijatuhkan. Dengan sangat malu ia keluar
tertegun-tegun, diiringi gelak tawa Ibu dan Tritis. Sementara
itu, si Jidul pun tertawa-tawa pula dengan caranya sendiri
yang spesifik.

Pemeranan tokoh dalam drama tersebut memerlukan sebuah kemampuan berakting sekaligus berdialog sesuai dengan tuntutan teks naskah. Para pemain mempelajari dengan cermat naskah drama tersebut sesuai dengan tokoh yang diperankan. Pemeran tokoh Jidul harus benar –benar dapat memahami dan menghayati, bagaimana berlaku seperti orang bisu. Jenis pemeranan seperti ini sudah memerlukan pemahaman tingkat lebih tinggi daripada tokoh naskah drama “ Salah Paham”.
Pada cerita Salah Paham pemain bisa menjadi diri sendiri, karena tokoh yang dikisahkan dalam cerita pengkisahannya sesuai dengan dunia siswa. Pada cerita Salah Paham menceritakan sebuah persahabatan antara siswa yang hampir retak karena adanya kesalahpahamanan . Anak tidak merasa asing pada dunia kisah drama tersebut. Peran sebagai siswa , sifat egoisnya, jutek, mudah marah, itulah sifat kanak-kanak. Kisah tersebut diramu dengan peran sisi positif yaitu bagaimana mereka bisa mengatasi problem diantara mereka, sehingga mereka menyadari sebuah kebenaran bahwa mudah marah, cepat menuduh tanpa alasan itu tidak baik, sehingga cerita tersebut ditutup dengan sebuah perdamaian yang dapat membuat suasana menjadi nyaman dan menyenangkan kembali.
Pada kisah cerita “ Arloji”, pemain dituntut benar-benar untuk menjadi orang lain , orang yang benar di luar dunia dan kebiasaannya. Bagaimana seorang pemain harus memerankan tokoh seorang ibu yang bijaksana dan lamah lembut. Kostum yang dikenakan oleh ibu-ibu maupun logat bicara atau perilaku ibu-ibu itu. Peran Jidul juga perlu pemahaman totalitas bagaimana menjadi seorang yang bisu , menjadi gagu perlu teknik yang unik juga tentang bicaranya, perilakunya, sifatnya. Tokoh Pak Pikun juga punya karakter sendiri , orang tua yang sudah pikun, pemarah dan mau bertindak sendiri .
Siswa benar-benar dihadapkan pada dunia yang lain dari kehidupannya. Bagaimana pemahaman siswa terhadap tokoh Jidul, Pak Pikun, Ibu, dan Tritis. Pemeranan ini diperlukan pemahaman yang serius dari siswa sebagai pemain drama. Keberhasilan dalam pemeranan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman batin siswa dalam menyimak kehidupan dengan lebih saksama. Siswa jadi dapat memahami dan menghayati sifat atau karakter tokoh. Implementasi dari peran yang ia bawakan dapat memberi warna pada khasanah kepekaan rasa, indra, perilaku baik pada pripadi maupun pada ranah sosial. Karakter siswa menjadi terasah dari berbagai karakter sesuai dengan peran yang ia mainkan. Sisi positif dari karakter peran yang dimainkan diharapkan dapat disunting dari setiap kejadian yang membawa hikmah. Perilaku baik pada cerita yang diperankan dapat memenangkan perilaku negatif yang ia harus jauhi.
Kegiatan bermain drama juga dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa baik, bagi diri sendiri maupun tanggung jawab sosial dalam kelompok bermain drama. Kekompakan antar pelaku , menjadi pemain yang ikut menentukan suksesnya sebuah pertunjukan drama. Kedisiplinan , keseriusan, kepekaan jiwa, kehalusan rasa dapat dilatih melalui kegiatan bermain drama. Kreativitas siswa dalam menumbuhkan karakter peran turut menentukan proses perkembangan intelektual siswa. Menurut DePorter ( 2005: 216) mengungkapkan kunci utama mendapat daya ingat yang istimewa adalah bagaimana cara kita mengasosiasikan pelbagai hal dalam memori kita. Daya ingat siswa dapat dilatih pada kegiatan bermain drama ini. Siswa dituntut untuk menghafalkan teks naskah drama sesuai dengan peran yang ia mainkan. Siswa dituntut untuk bisa berekspresi, bersikap ataupun memiliki sifat sesuai karakter peran tokoh.
Menurut Silberman( 2007: 222) Aktivitas dalam pembelajaran merupakan cara yang istimewa dalam memberikan kepada setiap siswa kesempatan untuk melatih kecakapan melalui bermain peran tentang situasi kehidupan nyata. Kegiatan yang spesifik untuk pembelajaran ini adalah melalui kegiatan bermain drama. Melalui drama siswa dapat mengenal karakter setiap pribadi lewat tokoh yang diperankan. Kreativitas peran yang dibawakan dipadu dengan kepekaan berimprovisasi drama pada pementasan dapat melatih kepekaan rasa dan kehalusan jiwa .
Simpulan
Pembelajaran drama dapat membawa efek positif bagi perkembangan karakter siswa, rasa disiplin , kebersamaan, kekompakaan, dan tanggung jawab dapat terbina melalui kegiatan ini. Kemampuan intelektual terasah utamanya melalui hafalan dialog teks, kepekaan rasa saat memerankan tuntutan lakon, solidaritas tinggi saat membina kekompakan dengan seluruh pemain drama.

Daftar Pustaka
1. DePorter dan Mike Hernacki. 2005. Quontum Learning. Bandung: Kaifa.
2. Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
3. Luxemburg, Jaan Van.dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.
4. Rahmanto, B dan P. Haryanto. 1987. Cerita Rekaan dan Drama. Jakarta: UT
5. Silberman, Mel. 2007. Active Learning. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
6. Soemanto, Bakdi. 2006.Majalah Dinding: Kumpulan Drama. Ygyakarta:
Gama Media






Tentang Penulis



Surati,S.Pd. Lahir di Karanganyar , 3 November 1966. Penulis adalah seorang guru bahasa Indonesia SMP N1 Limpung Batang Mulai tahun 1990 Nip. 19661103 199003 2 004 . Telah menikah dengan Hadi Sumpena, S.Pt. dan dikaruniai tiga orang putra dan satu orang putri, yaitu Waluyo Utomo14 tahun, Novita Christanti 12 tahun, Christian Hadianto 10 tahun, dan Yohanes Wibisono 8 tahun.
Setelah tamat SD Kristen Setabelan 1 Solo tahun 1979, melanjutkan ke SMP N 16 tahun 1982 Solo . Kemudian melanjutkan ke SPG Kristen Solo tahun 1985, D-2 UNS Sebelas Maret tahun Solo 1987, D3 UT Tahun 2000, dan S-1 UNNES tahun 2001.

Prestasi Akademik:

1. Juara 2 Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) tingkat Kabupaten Batang
Tahun 2007.
2. Juara 1 Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) tingkat Kabupaten Batang
Tahun 2008 ( Peringkat 9 untuk tingkat Provinsi LPMP Jateng )
3. Juara 2 Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Batang tahun 2010.